Rabu, 08 Juni 2011

Insha Allah (God Will)


Every time you feel like you cannot go on
You feel so lost and that you’re so alone
All you see is night and darkness all around
You feel so helpless you can’t see which way to go

Don’t despair and never lose hope
’Cause Allah is always by your side

Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah you’ll find your way
Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah you’ll find your way

Every time you commit one more mistake
You feel you can’t repent and that it’s way too late
You’re so confused wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

But don’t despair and never lose hope
’Cause Allah is always by your side

Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah you’ll find your way

Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah you’ll find your way

Turn to Allah He’s never far away
Put your trust in Him, raise your hands and pray
Ya Allah guide my steps, don’t let me go astray
You’re the only one who can show me the way
Show me the way, show me the way, show me the way

Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah we’ll find our way
Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah we’ll find our way

Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah we’ll find our way
Insha Allah, Insha Allah
Insha Allah we’ll find our way

(By : Maher Zain)

Senin, 09 Mei 2011

Jendela Hati


Aku ingin hidup
Secerah mentari
Yang menyinari di taman hatiku
Aku ingin seriang
Kicauan burung
Yang terdengar di jendela kehidupan

Aku ingin segala-galanya damai
Penuh mesra membuah ceria
Aku ingin menghapus duka dan lara
Melerai rindu di dalam dada

Sedamai pantai yang memutih
Sebesar titisan embun pagi
Dan ukhuwah kini
Pasti berputik mnghiasi taman
Kasih yang harmoni

Seharum kasturi
Seindah pelangi
Segalanya bermula
Di hati, di sini…

By : Saujana
*******************************************

Aku terharu mendengar nasyid ini,hidup sesaat dengan penuh manfaat. Ya allah penguasa alam semesta :
"Izinkan kami menjadi hamba-Mu yang bermanfaat
Izinkan kami menjadi abdi setia-Mu setiap saat
Izinkan kami bertemu dengan-Mu dengan penuh harap
dengan penuh cinta dan dengan penuh kerinduan"
Amin...

Rabu, 06 April 2011

Kematian Hati


Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat?” Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan.”

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?”

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Oleh : Alm.Ust.Rahmat Abdullah

***************************************
Subanallah...surat cinta yang ditulis Alm.Ust.Rahmat Abdullah dengan bahasa yang santun dan indah sebagai bahan renungan dan evaluasi diri. Terbersit dalam hati, dimanakah kita memposisikan Allah di hati ini?. Kalulah jawabannya bukan yang paling utama, lalu bagaimana dengan kondisi hati kita saat ini?. Apakah hati ini sensitif dalam kebaikan? atau malah keras seperti batu dalam kemaksiatan?. Mari kita renungkan bersama dengan membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat, suadara2 ku.

Doa Sederhana


Hari ini begitu indah, walu rintikan hujan membasahai bumi. Sang mentari tersenyum dibalik kabut awan. Langit pun menjadi kelam, pertanda hujan deras kan datang. Ku rasakan semelir angin bersama kabut awan. Akan ku lewati hari ini dengan senyuman. Subahanallah, Engkau uji hamba dengan kelembutan dan kasih sayang. Rintikan hujan membasahi bumi dan hati. Aku menangis bukan karena hujan yang datang. Hujan adalah sebagian rahmat dari Tuhan Semesta Alam untuk membasahi bumi yang gersang. Aku meneteskan air mata karena Aku terpilih mendapatkan ujian. Engkau pilih hamba dengan ujian, karena Engkau yakin kalulah hamba mampu menghapinya.

Ya allah yang maha kuat, kuatkanlah hamba sekuatnya kuat
Ya allah pemberi kesabaran, sabarkan lah hamba sesabarnya sabar
Ya allah yang maha suci, ikhaskanlah hamba seikhasnya ikhas dalam menghalau ujian

Semoga aku mampu menjadi hamba Mu yang setia, menjadi abdi Mu selamanya
Semoga dengan ujian ini tidaklah sedikt pun mengurngi rasa syukur ku pada Mu yang telah tercurah begitu melimpah
Semga Aku selalu kuat ya rabb, yang maha kuat

Ujian ini belumlah sebrapa karena ku yakin masih akan ada ujian-ujian lainnya yang menanti ku kembali
Birlah manusia mengina ku, memfitnaku bahkan membeci ku, namun harap ku engkau selalu dekat dengan ku, jangan sedikt pun menjauh
Gengamlah hati ini, biar hamba selalu tenang bersama-Mu selamanya.
Amin.....

Jumat, 28 Januari 2011

Meraih Cinta Ibu


Syahdan, seorang laki-laki suatu ketika bertanya kepada Ibn Abbas r'a, ''Saya meminang seorang wanita, tetapi dia menolak pinangan saya. Setelah itu, datang orang lain meminangnya, lalu dia menerimanya. Saya menjadi cemburu dan membunuhnya. Apakah tobat saya diterima?''

Ibn Abbas bertanya, ''Apakah ibumu masih hidup?'' Dia menjawab, ''Tidak.'' Ibn Abbas berkata, "Bertobatlah kepada Allah dan mendekatlah kepada-Nya semampumu." Atha' bin Yasar yang hadir ketika itu bertanya kepada Ibn Abbas, "Mengapa engkau bertanya kepada lelaki itu, apakah ibunya masih hidup?" Ibn Abbas menjawab, "Saya tidak tahu perbuatan yang paling mendekatkan (seseorang) kepada Allah Azza Wa Jalla, melainkan berbakti kepada ibu."
(HR Bukhari).

Demikian mulia kedudukan seorang ibu. Di antara bapak dan ibu, ibulah yang lebih berhak untuk menerima perhatian dari seorang anak. Tidak hanya itu, dalam sebuah sabda Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi Wasallam yang masyhur,
ibu memiliki hak tiga kali lipat lebih besar daripada seorang bapak.

Ada beberapa alasan mengapa seorang ibu memiliki hak tiga kali lipat lebih besar daripada seorang bapak.

Pertama,
seorang ibu menanggung berbagai kesusahan, baik ketika mengandung maupun melahirkan. Bahkan, ketika anaknya sudah berumur empat puluh tahun pun, perhatian seorang ibu tidak pernah berhenti, ia terus mendoakan anaknya ...

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS Al-Ahqaf [46]: 15).

Kedua,
kesusahan ketika mengandung itu bertambah dan semakin bertambah ...

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman [31]: 14).

Ketiga,
kesusahan seorang ibu mencapai puncaknya ketika hendak melahirkan. Alquran memberi gambaran betapa sakit waktu melahirkan dengan ungkapan bahwa Maryam binti Imran menginginkan kematian atau menjadi barang yang tidak berarti

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan." (QS Maryam [19]: 23).

Keempat,
setelah melahirkan, kewajiban ibu belum selesai. Ia harus menyusui dan merawat anaknya. Ia tidak akan pernah merasa tenang jika keselamatan dan kenyamanan sang anak terancam. Hal ini seperti ibu dari Nabi Musa As ketika ia diperintahkan Allah untuk menghanyutkan anaknya di sungai ...

Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
(QS Alqashash [28]: 7-13).

Empat perkara ini cukup menjelaskan mengapa Allah dan Rasul-Nya menempatkan derajat ibu lebih tinggi daripada bapak.
Wahai Saudaraku fiilah..semoga kita tidak sedikitpun menyia-nyiakan waktu kita untuk Mencintai dan Menyangi IBU kita ,.Doakanlah mereka (IBU) krena begitu besar kasih dan Sayang seorang IBU bagi kita (Anak) ...Wallahu'alam.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS.Al Israa':24)

Semoga bermanfaat....

**********
Kiriman sahabat FBku;Abu Azvhierandha December 22, 2010

Rabu, 05 Januari 2011

Sebab-sebab Gelisa

Biismillahir rohmaanir rohiim..

Tidak seorangpun yang luput dari rasa gelisah, apakah ia pejabat, pengusaha, dokter, guru, petani, pedagang, siapupun dia, karena gelisah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang, siapapun ia, pernah diserang kegelisahan. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa gelisah yang berkelanjutan sangatlah berbahaya.

Orang yang sering gelisah akan diserang oleh rasa tidak percaya diri. Kemudian timbulah perasaan takut yang berlebihan, perasaan takut miskin, takut mati, takut tidak mendapat jodoh, takut sebentar lagi akan datang masa pensiun, yang dulu tanda tangannya laku dan berpengaruh kemudian tidak lagi laku apalgi berpengaruh dan seterusnya berbagai jenis ketakutan yang tidak pada tempatnya.

Gelisah sama halnya dengan iman, kadang kadarnya naik terkadang menurun, Qolbu – hati seseorang suatu saat senang, berbunga-bunga, penuh dengan keceriaan. Namun dibalik itu disuatu saat yang lain, hati juga sering gundah, gelisah, hambar, hampa tanpa rasa. Kalau sudah begitu apapun menjadi susah, bisa jadi apa yang dikerjakan tidak maksimal bahkan malah salah tidak karuan. Tidak bisa tidur, mata menerawang kosong tanpa harapan, kesal tapi bingung . Kenapa demikian, ada beberapa yang menyelimutinya:

1. Kurang bersyukur

Seperti janji Allah Azza Wa Jalla dalam firman-Nya:

وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim [14]:7).


Dalam Qs: Hud 11:6,
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

pribadi yang memiliki sifat syukur dalam dirinya, tidak tampak sama sekali dalam dirinya penyesalan dalam penderitaan, rasa putus asa dalam ujian, ia tidak gelisah, apapun yang dihadapinya tidak membuatnya menjadi gelisah. Karena keindahan pribadinya itu,
Alloh merelakan diri-Nya duduk bersama golongan orang-orang seperti ini.

Firman Alloh Azza Wa Jalla,

نعمة من عندنا كذلك نجزي من شكر

"Sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur (QS. Al-Qamar [54]:35).

2. Banyak menuntut

Bila sudah kurang bersyukur, dibalik itu biasanya muncul persaan tidak puas, tidak bisa menerima apa yang telah diperolehnya. Ketidakpuasan itu disusul dengan keinginan selanjutnya yang disebut menuntut. Mencintai dunia berlebihan sehingga tidak puas dengan apa yang telah diberikan Allah Azza Wa Jalla kepadanya,

Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam mengkhawatirkan umatnya yang mencintai dunia secara berlebihan.

''Yang paling aku takutkan dari umat sepeninggalanku adalah jika kesenangan dunia dan hiasannya dibuka untuk kalian.''
(Muttafaq 'Alaih)

3. Berbuat zhalim

Sering melakukan perbuatan menyusahkan atau menyengsarakan orang lain. Semakin orang sengsara semakin senang hatinya, dan terus begitu selalu mencari sesuatu untuk menzholimi orang lain. Kalau tidak hatinya tidak puas, menjadi gelisah. Tidak lapang, bening tanpa bebas.

Jika ia mempunyai anak buah yang bekerja padanya, ia selalu menunda-nunda honornya yang merupakan haknya. Padahal di sisi lain ia selalu menuntut agar bekerja semaksimal mungkin yang dapat memuaskan hatinya. Ia senang melihat anak buahnya merengek melakukan pinjaman karena tidak mencukupi atau karena honornya belum dikeluarkan dan berkesusahan. Semakin merengek semakin senang hatinya, begitu seterusnya dengan pekerjaan yang lainnya dengan siapapun ia selalu senang melihat orang lain susah, dan gelisah bila melihat orang senang, atau melebihinya.

4. Banyak dosa

Setiap kesalahan yang dilakukan seseorang, maka kesalahan itu akan membekas dalam hatinya sebagai perasaan bersalah. Semakin banyak melakukan kesalahan semakin banyak pula bekas yang tersimpan dalam hatinya sebagai sebuah kesalahan. Sehingga hatinya menjadi gelisah, dan semakin banyak kesalahan yang dilakukan maka semakin gelisah pula hatinya, begitu seterusnya. Sehingga hati itu menjadi luka, sakit, penuh dengan kegelisahan. Ibnu Qayyim berkata, ''Jika kamu menemukan keterasingan karena perbuatan dosa, maka segera tinggalkan dan jauhi dosa dan maksiat. Hati tidak akan tenang dengan perbuatan dosa.''

5. Lemah iman

Seseorang yang imannya lemah, akan sangat mudah terpengaruh dengan keadaan sekelilingnya. Ia akan banyak mengeluh dan menyalahkan sekelilingnya, tidak sesuai dengan keinginannya. Orang yang lemah iman akan mudah mengeluh bahkan orang yang lemah iman tidak yakin dengan kemahakuasaan Allah. Padahal, hidup dan mati, rezeki dan jodoh manusia, semua sudah diatur dan ada dalam kekuasaan Allah Azza Wa Jalla.

Tidak ada satu daun pun yang gugur tanpa sepengetahuan Alloh, baginya sangat mudah mengubah terbit matahari dan bulan, mengguncang bumi dengan segala isinya, apalagi sekedar mati, rezaseki dan jodoh manusia, kekuasaan Alloh sangatlah besar, tiada yang melebihiNya.

Bagi orang yang berimnan, tentu segalanya mengarahkan kehidupannya sehari-hari kepada Allah..

seperti firman Allah Azza Wa Jalla

الذين آمنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله ألا بذكر الله تطمئن القلوب

''Yang beriman dan tenteram hatinya lantaran ingat kepada Allah, ketahuilah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS 13:28).

Wallahi taufiq Wal Hidayah ..semoga bermanfaat...

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika....

*************

Kiriman Sahabat FB ku :Abu Azvhierandha December 15, 2010

Pembinaan Akhlak

Biismillahi rohmaanir rohiim..

Akhlak adalah cermin tingkah laku manusia. Akhlak menjadi standar kelayakan manusia untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Azza Wa Jalla.

Akhlak mulia adalah anugerah terindah yang diberikan Allah Azza Wa Jalla kepada para hamba-Nya. Manusia yang berakhlak mulia ibarat mutiara yang bersinar dalam kegelapan. Ia bak pohon yang tumbuh dan berbuah, kemudian buahnya dapat bermanfaat bagi yang memakannya.

Akhlak juga diibaratkan sebagai air yang jernih dan suci, yang bisa menyucikan dan memberi banyak manfaat bagi makhluk hidup. Bahkan, dalam konteks yang lebih luas, akhlak memiliki peranan penting dalam terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif.

Akhlak menjadi ikon determinan dalam proses kemajuan bangsa, negara, dan agama. Oleh karena itu, upaya pembinaan akhlak mulia adalah suatu keniscayaan yang harus terus dilakukan, kapan saja dan di mana saja.

Lantas siapa yang bertanggung jawab untuk membina akhlak ini dalam lingkup keluarga dan masyarakat ???

Pertama,
pada lingkungan keluarga, tentu saja orang tua memiliki peranan penting dalam membangun akhlak anak-anak. Sebab, secara psikologis, orang tua adalah bagian terdekat sekaligus memiliki pengaruh besar dalam diri dan jiwa sang anak.

Untuk itu, orang tua seyogianya selalu mengontrol, mengawasi, serta mengarahkan anak-anaknya agar selalu mengamalkan akhlaqul karimah . Allah Azza Wa Jalla berfirman,

''Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.'' (QS Attahrim [66]: 6).

Kedua,
pada lingkungan masyarakat, yang bertanggung jawab dalam pembinaan akhlak ini adalah para ulama, kaum pendidik, serta cendekiawan. Meraka adalah cermin bagi masyarakat. Apa yang mereka lakukan sejatinya akan ditiru dan dipraktikkan oleh masyarakat. Oleh karenanya, para ulama, pendidik, serta kaum cendekiawan harus sadar akan hal tersebut.

Mereka harus dapat memberikan petunjuk pada masyarakatnya.

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

'Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.''
(QS As-sajdah [32]: 24).

Ketiga,
pada lingkungan yang lebih luas, yakni negara, yang bertanggung jawab atas pembinaan akhlak ini adalah pemerintah atau umara . Seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan bagi rakyatnya. Artinya, akhlak mulia sudah selayaknya terpancar dalam diri seorang pemimpin (umara).

Syauqi Beik dalam kata-kata hikmahnya mengungkapkan :
''Sesungguhnya umat dan bangsa itu sangat bergantung pada akhlaknya, jika baik, maka akan kuat bangsa itu, dan jika rusak maka akan hancurlah bangsa itu.'' Wallahi taufiq Wal Hidayah..

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri ?"
(QS.Fushshilat:33)

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika....

***********

Kiriman Sahabat FB ku : Abu Azvhierandha December 14, 2010

Puasa Asyura

Biismillahir rohmaanir rohiim..

Yang dimaksud hari Asyura adalah tanggal sepuluh bulan Muharram.

Demikian pendapat yang dikemukakan oleh al-Khalil, dikuatkan pula oleh az-Zain ibn al-Munayyir (Fath al-Bari, 4/248).

Dan inilah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama salaf dan khalaf. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalahSa’id bin al-Musayyib, al-Hasan al-Bashri, Malik, Ahmad, Ishaq dan masih banyak ulama yang lain (Syarh Muslim, 4/467)

Ketika ditanya mengenai hukum puasa pada hari Asyura, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjawab,

”Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh dari bulan Muharram. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Aku lebih berhak untuk mengikuti Musa daripada kalian.” Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa pada hari itu.
(HR. Bukhari [2004] dan Muslim 1130]).

Di dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma [tersebut] yang jelas disepakati kesahihannya dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu. Beliau juga pernah ditanya tentang keutamaan berpuasa pada hari itu. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

”Aku berharap kepada Allah supaya puasa ini bisa menghapuskan dosa setahun yang sebelumnya.” (HR. Muslim [1162]).

Hanya saja setelah itu beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yaitu dengan berpuasa pada tanggal sepuluh dan sehari sebelumnya yaitu hari kesembilan [sebagaimana tercantum dalam HR. Muslim [1134],[pent].Atau diiringi puasa sehari sesudahnya yaitu hari kesebelas.

Oleh sebab itu maka yang lebih utama adalah berpuasa pada hari kesepuluh dan menambahkan sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya [lihat juga Fath al-Bari, 4/285. (Namun riwayat yang memerintahkan untuk puasa sehari sesudahnya dinilai lemah)
[lihat catatan kaki Tajrid al-Ittiba', hal. 128. pent].

Dan menyertakan hari kesembilan itu lebih utama daripada hari yang kesebelas.Maka sudah seyogyanya bagimu wahai saudaraku sesama muslim berpuasa pada hari ‘Asyura demikian pula hari yang kesembilan.”(Fatawa Arkan al-Islam, hal. 490-491).

Tambahan Para ulama yang menyatakan sunnahnya berpuasa pada hari tanggal sembilan dan sepuluh Muharram di antaranya adalah; Imam asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan lain-lain (Syarh Muslim, 4/467)

Selain itu disunnahkan pula untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah al-Muharram.

Dan shalat yang paling utama sesudah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim [1163]).

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan yang dimaksud bulan Allah al-Muharram adalah bulan yang terletak antara bulan Dzulhijah dan Shafar (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 3/409) ...

Cat : Puasa Asyura tgl 9 dan 10 Muharram ( Rojjih )
Wallahi taufiq Wal Hidayah ..Semoga bermanfaat ...

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika....

**************

Kiriman sahabat FB ku : Abu Azvhierandha December 13, 2010

Senin, 13 Desember 2010

Keimanan

Andai matahari di tangan kanan ku
tak kan mampu mengubah yakin ku...
terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati...

Bila kah rembulan di tangan kiri ku
tak kan sanggup mengganti iman ku...
jiwa dan raga ini apapun adanya...

Andaikan seribu siksaan...
terus melambai-lambaikan...
derita yang mendalam
seujung rambut ku
aku tak kan bimbang
jalan ini yang ku tempuh...

Bila kah ajalkan menjelang...
jemput rindu-rindu...
syahit yang penuh kenikmatan
cinta ku hanyalah untuk-Mu
tetapkan muslim ku selalu...

By : Haris Shaff Fix
-------
Subahanallah syair nasyed ini membuat diri ini teringat akan perjuanagan Rasulallah yang luar biasa. Perjalan hidup yang menjadikan insprasi dalam kehidupan kita. Keimanan tak akan terbeli dengan apapun ; harta, tahta ataupun wanita. Ia ada dalam lubuk hati dan tak akan terganti hingga kenikmatan syahit menjelang. Semoga kita berada dalam nikmatnya keimanan yang tertanam di hati hingga robbi menjemput keimanan kita dengan senyuman. Amin

Muhasaba Cinta

Wahai pemilik nyawaku...
Betapa lemah diriku ini...
Berat ujian dari-Mu...
Ku pasrahkan semua... pada-Mu...
Tuhan baru kusadar indah nikmat sehat itu...
Tak pandai ku bersukur
Kini ku harapkan cinta-Mu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berzikir dikidung doa ku
Sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosa ku
Butir-butir cinta air mata ku
Teringat semua yang KAU beri untuk ku
Ampuni khilaf dan salah...
Selama ini ya ilahi
Muhasabah cinta ku...

Tuhan kuat kan aku lindungi ku dari putus asa
Jika ku harus mati pertemukan ku dengan-Mu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berzikir dikidung doaku
Sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang kau beri untuk ku
Ampuni khilaf dan salah...
Selama ini ya ilahi
Muhasabah cinta ku...

Senin, 22 November 2010

Mencintai dengan Meneladani


Biismillhir rohmaanir rohiim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alkisah di negeri Arab ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus keluar rumah untuk mencari uang.

Di depan sebuah masjid, dia bertemu seorang muslim dan meminta bantuannya, “Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu” kata janda itu menghiba.
“Mana buktinya?” tanya lelaki muslim itu.
Janda itu tidak dapat membuktikan karena dia sendiri orang asing di tempat itu. Akhirnya lelaki itu tidak menolongnya.

Setelah itu, janda miskin itu bertemu dnegna orang Majusi. Dia pun meminta bantuannya. Orang Majusi itu mengajak ke rumahnya, memuliakannya dan memberinya uang dan pakaian.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi berjumpa dengan Rasulullah. Semua orang mendatangi Nabi dan beliau menyambut mereka dnegan baik. Ketika tiba giliran lelaki itu menghadap Rasulullah, beliau mengusirnya dan menyuruhnya pergi. Lelaki itu berteriak, “Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga”
Rasulullah bertanya, “Mana buktinya?”

Lelaki itu tersadar, Rasulullah menyindirnya karena dia telah meminta bukti saat dimintai pertolongan. Dia menangis, Rasulullah lalu menunjukkan sebuah taman indah dan hunian indah di surga.
“Lihat ini,” tutur Rasulullah. “Seharusnya semua ini kuberikan kepada mu. Tetapi karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, kuberikan semua ini pada seorang Majusi”

Pagi harinya lelaki itu terbangun. DIa mencari janda miskin itu. Ternyata dia menemukannya sedang berada di rumah seoragn Majusi. “Ikutlah kau bersamaku,” pinta lelaki itu pada si janda. Tetapi orang Majusi tidak mau menyerahkannya. AKu akan beri kau ribuan dinar asal kau mau menyerahkannya,” pinta si lelaki muslim. Orang Majusi itu tetap dtidak mau. Lelaki itu akhirnya jengkel dan berkata. “Janda ini orang Islam. Seharusnya yang menolongnya sesame muslim juga!”

Orang Majusi itu lalu bercerita, “Tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah. Dia mengatakan akan memberikan kepadaku surga yang semula akan diberikan kepadamu. KEtahuilah, pagi ini ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikutnya karean aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang pencintanya”

Begitulah. Cinta laksana air mengalir yang memindahkan seluruh sifat dan karakter kekasih kepada yang mencintainya. Bukti nyata kita mencintai Rasulullah adalah meneladani akhlaknya dan setia mengikuti sunnahnya.

Rasulullah bersabda, “Orang yang paling aku cintai dan paling dekat kepadaku di antara kalian di akhirat kelak adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling kubenci dan paling jauh dariku di akhirat adalah orang yang paling buruk akhlaknya, yaitu orang yang banyak bicara, suka ngobrol dan suka melecehkan orang lain”
(HR Ahmad)

Dalam riwayat Anas bin Mlaik, Nabi bersabda: “Anakku! JIka kamu mampu pada pagi dan sore hari, dan dihatimu tidak ada kedengkian pada seseorang maka lakukanlah itu”
Lalu Nabi bersabda lagi, “Anakku! Yang dmeikian itu adalah diantara sunnahku. Siapa saja yang menghidupkan sunnahku maka dia sungguh telah mencintaiku. Siapa saja yang mencintaiku maka dia kana bersamaku di surga kelak” (HR Tirmidzi)

“Katakan, (wahai Muhammad), ‘JIka kalian (benar benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa dosa kalia’. Allah Maha Pengampun dna Maha Penyayang”
(QS Al Imran, 3:31)

Al Quran menuturkan, “Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. Berat baginya apa yang kamu derita, sangat ingin agar kamu mendapatkan kebahagiaan. DIa sangat pengasih dan penyayang (raufur rahim) kepada orang orang yang beriman”
(QS At Taubah 9:128).

Bagaimana kita dapat ikut merasakan penderitaan orangorang di sekitar kita? Bagaimana kita menjadi ornag yang berusaha agar orang lain hidup bahagia dan memperoleh petunjuk Allah? Bagaimana kita menumbuhkan sikap raufur rahim didalam diri kita seperti Rasulullah mencontohkan kepada kita?

Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah tetapi dia tidak mencintai RasulNya, bohonglah ornag yang mengaku mencintai RasulNya tetpai dia tidak mencintai kaum fakir dan miskin. Dna bohonglah orang yang mengaku mencintai surga tetapi dia tidak mau menaati Allah SWT. Demikian ditegaskan Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulum al Din.

Jiwa kita akan bersama dengan orang yang kita cintai. Rasulullah menganjurkan kita untuk mencintai beliau dan ahli baitnya. Karena bila kita mencintainya dengan tulus maka prilaku kita akan sesuai dengan prilaku Rasulullah dan keluarganya. Kita akan bertingkah laku seperti apa yang dikehendaki Rasulullah. Seluruh kejadian yang menimpa Rasulullah dan keluarganya akan mempengaruhi emosi dan perasaan kita.
Kita tidak dapat mengandalkan amal kita yang terbatas. Kita sangat tergantung dan mendambakan rahmat Allah. Siapa lagi yang menjadi rahmat bagi semua alam selain Rasulullah?~~

Tidak beriman seseorang sehingga aku lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri …………….[HR Bukhari dan Muslim]

(Kiriman sahabat FBku Abu Azvhierandha November 20)

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Selasa, 16 November 2010

Sederhana dalam Ibadah


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabrakatuh ..

Ada seorang pemuda, sebut saja si Fulan. Dulu dia seorang yang rajin beribadah. Kalau masalah shalat wajib berjama’ah jangan ditanya, dia tidak pernah ketinggalan mengerjakannya.
Shalat malam?! dia pun ahlinya. Baca Al-Qur’an?! sudah berkali-kali khatam. Puasa senin-kamis?! itu rutinitas mingguannya. Menghadiri pengajian?! Lha wong ustadznya saja sangat dekat dengan dia karena saking rajinnya menghadiri pengajian.

Namun itu cerita dulu. Sekarang si Fulan telah berubah. Alhamdulillah tidak sampai berubah “180 derajat”. Tapi ibadah-ibadah yang dulu dia geluti sekarang hampir semuanya dia tinggalkan. Lho kenapa ya?!

Mengenal Penyakit Futur
Mungkin yang sekarang menimpa si Fulan -atau orang yang sejenisnya- adalah rasa futur dalam mengerjakan ibadah. Futur adalah suatu masa dimana seseorang yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba menjadi lemah, seolah semangatnya itu lenyap ditelan waktu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Setiap amal perbuatan itu memiliki puncak semangatnya, dan setiap semangat memiliki rasa futur.” (HR.Ahmad)

Hindari Sikap Berlebihan
Salah satu hal yang menjadikan ajaran Islam ini sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah dilarangnya sikap berlebihan dalam beribadah dan tercelanya perbuatan tersebut.

Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya kisah tiga orang sahabat yang mendatangi rumah istri-istri Rasulullah demi menanyakan bagaimana beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beribadah. Setelah mereka bertiga diberitahu tentang hal tersebut mereka merasa minder, lalu berkata, “Kita ini siapa dibandingkan dengan Rasulullah?! padahal beliau seorang yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.”
Kemudian salah seorang dari mereka bertiga berkata, “Kalau begitu aku akan shalat malam terus menerus (dan tidak tidur).”
Yang satunya lagi berkata, “Adapun aku, aku akan berpuasa seharian penuh dan tidak berbuka.”

Yang lainnya lagi berkata, “Kalau aku, aku akan memisahkan diri dari wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya bertanya, “Apakah kalian yang tadi berkata demikian dan demikian?!. Adapun aku, demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi bersamaan dengan itu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat dan aku pun tidur. Aku pun menikah dengan para wanita. Dan siapa saja yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seseorang yang berlebih-lebihan dalam agama kecuali akan terkalahkan.” (HR. Bukhari)

Bahkan Rasulullah sendiri saja terkadang tidak memperpanjang shalatnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Abu ‘Abdillah Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhuma, “Aku pernah shalat bersama Nabi. Shalat beliau tidak lama, demikian pula dengan khutbahnya.”
(HR. Muslim). Al-Imam An-Nawawi menerangkan bahwa maksudnya adalah shalatnya tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.

Sedikit Asal Rutin, Itu Kuncinya
Untuk ibadah-ibadah yang hukumnya tidak wajib, kita boleh untuk tidak mengerjakannya secara menyeluruh. Bahkan yang terbaik dalam beramal adalah mengerjakan yang kita bisa meskipun tidak banyak asal dengan syarat : RUTIN.

Inilah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya, “Amalan yang paling dicintai adalah yang rutin walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘alahi)

Rasulullah juga pernah menasehati ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, “Wahai ‘Abdullah, janganlah kau menjadi seperti orang itu. Dulu ia rajin qiyamul lail, namun kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Harus Sesuai Syari’at
Sebuah pemahaman yang patut dimengerti oleh setiap muslim adalah bahwa amalan itu hanya dapat diterima jika memenuhi 2 syarat utama:
(1) ikhlas hanya karena Allah, dan
(2) mengikuti apa yang telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau salah satu keduanya tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.

Sah-sah saja kita beramal dengan berbagai macam ibadah selagi kita mampu, namun yang perlu diperhatikan juga ialah amalan-amalan tersebut hendaknya bersumber dari 2 syarat tadi. Jika amalan yang kita kerjakan selama ini ternyata hanya sekedar ‘produk buatan’ manusia saja (tidak sesuai dengan syariat, membuat ibadah baru), apalagi ditambah dengan ketidak-ikhlasan kita, maka yakinilah bahwa amalan tersebut pasti tertolak.

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang membuat-buat ajaran baru yang bukan berasal dari kami maka ia tertolak.” (HR.Muslim)
Dan masih ingat dengan kisah 3 orang sahabat tadi?! Bukankah amalan-amalan yang mereka lakukan itu semuanya baik bila kita melihatnya dengan sekilas saja (shalat semalam suntuk dengan tidak tidur, puasa seharian penuh dengan tidak berbuka, dan bersikeras untuk tidak menikah) ?! Akan tetapi Rasulullah membencinya disebabkan ketidaksesuaian amalan-amalan tersebut dengan syari’at Islam.

Betapa indahnya perkataan seorang ‘Abdullah bin Mas’ud terkait masalah ini, “Sederhana dalam mengikuti Sunnah itu jauh lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam mengerjakan amalan-amalan baru yang tidak pernah dicontohkan Nabi.”

Jangan Disalahpahami !

Apa yang baru saja kami paparkan bukanlah pembelaan untuk mereka yang bermalas-malasan dalam beribadah dan bukan pula celaan bagi mereka yang berusaha memperbanyak amalan shalih. Jangan sampai ada dari kita yang malah memandang sinis orang-orang yang rajin beribadah seraya mengatakan, “Jadi orang Islam itu ga usah fanatik kayak gitu lah.”

Tapi mari kita sama memperbanyak amalan shalih sebagai bekal kita menuju kehidupan akhirat kelak. Beribadahlah sesuai kesanggupan. Mari sama-sama berangkat ke masjid selama masih diberi kesanggupan oleh Allah. Yuk sama-sama mengaji agar kita bisa kenal agama. Ayo shalat malam selagi kita masih sehat wal ‘afiat. Kalau ada rezeki maka infakkan fi sabilillah, dan tabung untuk bisa berangkat haji ke tanah suci. Begitu juga dengan ibadah yang lainnya, kerjakan selagi mampu dan jangan memaksakan diri. Rutinkanlah ibadah tertentu yang patut Anda banggakan nanti dihadapan Allah. Serta jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita dan saudara-saudara kita tetap diberi ke-istiqomah-an dalam menjalankan ibadah-ibadah tersebut.

Dan bagi Anda yang sanggup melakoni segala macam ibadah, bersyukurlah. Karena sesungguhnya kesanggupan Anda tersebut tidak lain adalah anugerah dari Allah Ta’ala, bukan semata-mata karena kekuatan fisik Anda....Wallahu'alam Bishawab ..

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إلي


[Buletin An-Nashihah ]

(kiriman sahabat FBku; Abu Azvhierandha November 13)

Jumat, 12 November 2010

Serba serbi Isotonik


Saya melihat iklan minuman isotonik yang marak di televisi. Saya miris dan tergelitik untuk mengomentari iklan yang lugas namun dapat menyesatkan. Sebelumnya saya perlu menekankan, bahwa tulisan saya ini tidak memiliki tendensi apa-apa. Tidak juga bermaksud menjelek-jelekkan produk isotonik dan menciptakan kesan negative terhadap produk ini. Saya hanya mencoba untuk memberikan informasi yang berimbang sehingga masyarakat dapat menentukan dan memutuskan dengan lebih bjaksana.

Minuman isotonik adalah minuman yang mengandung ion-ion yang berguna bagi tubuh, sebagian besar adalah ion Sodium (Na) dan Klorida (Cl). Minuman ini juga diklaim sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang dalam waktu singkat.

Apabila kita berkeringat, natrium dan klorida yang terkandung di dalam tubuh akan keluar melalui pori-pori kulit. Jika kedua zat tersebut tidak digantikan, sel-sel tubuh lama kelamaan akan rusak dan mati. Persoalannya dari manakah tubuh memperoleh zat-zat tersebut? Apakah harus melalui minuman? Jawabannya tidak!!

Minuman isotonik sebetulnya tidak berbeda dengan air putih biasa yang ditambahkan sedikit garam dapur. Garam dapur yang larut dalam air terpecah sebagai ion Na dan Cl. Ion yang sama yang terdapat dalam minuman isotonik. Sehingga tidak berbeda dengan larutan garam. Oleh produsennya, larutan itu lalu di beri tambahan zat lain, seperti vitamin.Dan jangan dikira ion-on ini hanya dapat diperoleh dari minuman. Akan tetapi dari makananpun ion-ion ini bisa diperoleh. Masakan yang diberi garam dapur dan buah-buahan mengandung jumlah ion yang cukup untuk kebutuhan tubuh.

Dalam kondisi normal, tubuh orang dewasa hanya memerlukan 2,3 gram natrium per hari, sedngkan klorida hanya 50-100 mg. Pada anak-anak kebutuhan ion-ion ini tentu saja jauh lebih sedikit. Dalam makanana sehari-hari, sebetulnya kebutuhan in telah tercukupi. 1 ons daging mengandung 70 mg natrium, sementara 10 ons nasi mengandung 10 mg natrium. Bahan makanan lain, seperti telur, daging ayam, kacang-kacangan, buah dan sayur juga mengandung natrium. Oleh karena itu pada kondisi normal, kita sudah tidak memerlukan lagi minuman isotonik.

Dan dibalik kesan manfaat dan kesegarannya, ternyata minuman ini dapat membahayakan bila dikonsumsi berlebihan. Minuman ini hanya cocok dikonsumsi oleh atlet yang menggeluti olah raga berat. Pada atlet olah raga berat kebutuhan natrium lebih tinggi yatu sekitar 5-7 gram per hari. Kelebihan ion-ion tubuh akan menyebabkan hipertensi.

Beberapa iklan isotonik justru berani menyebutkan bahwa minuman ini jauh lebih baik dari air biasa tanpa menjelaskan kondisinya. Iklan-iklan tersebut memperlihatkan dan memakai model oang biasa sebagai konsumen isotonik. Minuman itu juga di tenggak pada kondisi biasa, seperti terjebak macet yang tidak selalu identik dengan keluarnya ion-ion tubuh secara berlebih. Hal ini dapat memberi informasi yang keliru pada masyarakat.

Produsen juga seharusnya mencantumkan berapa jumlah garam dalam minuman isotonik dan juga berapa jumlah garam yang dibutuhkan manusia per hari. Jadi meski keliahatannya menyegarkan, hati-hatilah bila mengkonsumsi isotonik.

Sumber: Kompas, edisi 29 Juni 2008

Posted by Wahyu Riyadi
http://wahyuriyadi.blogspot.com/2008/06/serba-serbi-isotonik.html

Kamis, 11 November 2010

Nasehat Untuk Para Pendidik


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Sahabatku, engaku adalah pendidik bagi dirimu, engkau adalah pengajar bagi adek2mu, engkau adalah pembimbing bagi teman2mu dan engkau adalah tauladan bagi anak2mu. Simaklah dan renungkanlah catatan sederhana ini. Semoga allah ridho dengan hidup kita yang sesaat ini. Amien
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وبعد:

Inilah sebahagian wasiat yang saya wasiatkan pada diri saya dan kepada saudara saya dari kalangan para pendidik. Dan saya meminta kepada Allah Ta’ala semoga kita bisa mengambil manfaat dengannya.

Pertama : Ikhlashkan niat karena Allah Ta`ala dalam mendidik

Mengikhlashkan niat karena Allah Ta`ala dalam mendidik anak-anak didik dan saudara-saudara dari kalangan penuntut ilmu dan mendidik mereka sesuai dengan apa yang diridhoi oleh Rabb Jalla wa `Alaa. Kemudian sabar dan mengharapkan ganjaran atas amalan tersebut dari Allah Subhaana wa Ta`ala dan semata-mata mengharapkan pahala dari-Nya.

Berkata sebagian ahli ilmu : “al-Ikhlash ialah jangan kamu mencari atas amalan engkau saksi selain Allah Ta`ala, tidak juga pemberi ganjaran kepada selainNya. Dan inilah sebenarnya hakikat dari ad Din serta miftah (kunci) dakwah para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Sallaam”.

Allah Jalla Jalaaluhu berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka ber`ibadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) Din yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah Din yang lurus. (QS. Al Baiyyinah : 5)

Dan Allah Ta`ala berfirman :

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ # قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) Din yang benar, Din Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam”. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An`am : 161-163)

Keikhlashan merupakan syarat untuk diterimanya amalan. Sesungguhnya satu amalan tidak akan diterima oleh Allah Ta`ala kecuali dengan dua syarat :

1. Hendaklah amalan tersebut zhohirnya cocok dengan apa yang disyari`atkan Allah Ta`ala dalam kitab-Nya atau dijelaskan oleh Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam.

Al Bukhaari dan Muslim telah meriwayatkan dalam shohih mereka berdua, hadist dari jalan `Aaisyah radhiallahu `anha, bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa yang mengada-ada (mengadakan satu bid`ah) dalam perintah Kami ini yang bukan bagian darinya maka dia tertolak”.[1]

2. Hendaklah amalan tersebut ikhlash semata-mata liwajhillahi Ta`ala.

Imam al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan satu hadist dari jalan `Umar bin al Khotthab radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya seluruh amalan tergantung dengan niat, dan sesungguhnya setiap manusia mendapatkan apa yang dia niatkan”.[2]

Berkata al Fudhail bin `Iyaadh : “Amalan yang paling baik ialah amalan yang paling ikhlash dan paling benar”, kemudian beliau melanjutkan perkataannya : “Sesungguhnya satu amalan apabila ikhlash dilakukan tapi tidak benar (tidak cocok dengan tuntunan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam) tidak akan diterima oleh Allah Jalla Jalaaluhu, dan apabila benar tetapi tidak ikhlash tidak juga diterima, sampai amalan itu betul-betul ikhlash dan benar, al-khoolish (ikhlas) semata-mata karena Allah, dan ash-showab (benar) betul-betul cocok di atas as Sunnah”.[3]

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan tentang ikhlash, yakni dimana seorang hamba mengamalkan satu amalan yang sholih, kemudian dia tidak peduli dengan pantauan manusia atasnya, bahkan kalau amalan sholih tersebut dinisbahkan kepada selain dirinya akan membuat dia gembira. Demikian itu dikarenakan ilmunya dan bahwasanya dia dipelihara disisi Allah Ta`ala.

Dan dikatakan kepada Sahl at Tustariy : “Apa sesuatu yang sangat berat atas jiwa? Kata beliau : “al Ikhlash, karena tidak ada bagi jiwa tersebut bagian – artinya dari bentuk keduniaan – .”

Kedua : Bertakwa kepada Allah Ta`ala, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, baik ketika nampak maupun tidak nampak.

Sesungguhnya takwa kepada Allah `Azza wa Jalla merupakan wasiat untuk orang-orang terdahulu dan sekarang.

Allah Ta`ala berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. (QS. An Nisaa` : 131)

Adalah Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam di kebanyakan wasiatnya untuk para shahabat adalah ketakwaan kepada Allah Ta`ala. Dalam hadist al `Irbaadh ibnu Saariyah bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة

“Saya wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan mentaati para pemimpin”.[4]

Berkata Imam Tholq bin Habiib rahimahullahu Ta`ala : “Yang dikatakan at takwa ialah kamu beramal untuk mentaati Allah dibawah bimbingan cahaya dari Allah, dan kamu mengharapkan ganjaran dari Allah, lalu kamu meninggalkan maksiat kepada Allah dan takut akan adzabNya Jalla Sya`nuhu”.[5]

Berhati-hatilah dari seluruh maksiat besar atau kecil, sesungguhnya Allah Ta`ala telah menjanjikan atas siapapun yang menjauhi dosa-dosa besar akan menghapus dosa-dosa kecilnya, dan akan memasukkannya ke dalam jannah-Nya. Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An Nisaa` : 31)

Artinya, banyaknya kebajikan dan keberkahan adalah dengan berhati-hati dari dosa-dosa kecil. Al-Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dalam shohihnya hadist dari Anas bin Maalik radhiallahu `anhu , beliau berkata :

إنكم لتعملون أعمالا هي أدق في أعينكم من الشعر، إن كنا لنعدها على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من الموبقات

“Sesungguhnya kalian telah mengamalkan amalan-amalan yang dimata kalian lebih halus dari rambut, sesungguhnya kami mengkategorikan di zaman Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam sebagai al-muubiqaat (yang membinasakan)”.[6]

Berkata Abu `Abdillah, yang dimaksudkan ini ialah al Muhlikaat (yang membinasakan).

Berkata al Imam al Auza`iy : “Jangan kamu melihat kepada kecilnya maksiat, akan tetapi lihatlah kepada besarnya siapa yang kamu durhakai”.

Ketiga : Qudwah (teladan) yang baik.

Sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa seorang penuntut ilmu akan terpengaruh dengan gurunya, dia akan senang untuk taqlid pada gurunya dan berqudwah dengannya. Maka diwajibkan atas para pendidik dan pengajar jangan sampai perkataannya menyelisihi perbuatannya, Allah Ta`ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ # كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. As shof : 2-3)

Dan Allah Jalla Sya`nuhu berfirman tentang Nabi-Nya Syu`aib `Alaihis Sholaatu was Sallaam :

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang, aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan, dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (QS. Huud : 88)

Berkata penya`ir :

لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك إذا فعلت عظيم

Jangan kamu melarang dari akhlaq yang jelek lalu kamu mendatangi semisalnya,

`aib yang besar atas engkau bila kamu mengerjakannya.

Keempat : Akhlaq yang baik.

Allah Ta`ala berfirman :

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. Al Israa` : 53)

Allah Ta`ala firman :

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fusshilat : 34)

Al Imam Tirmidziy telah meriwayatkan dalam sunannya, hadist dari jalan Abu Darda` bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

ما شيء أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من خلق حسن وإن الله ليبغض الفاحش البذيء

“Tidak ada sedikitpun yang lebih berat ditimbangan seorang mukmin pada hari kiamat nanti dari akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang berkata keji dan jelek”.[7]

Akhlaq yang baik mencakup sisi-sisi yang sangat banyak dari kehidupan seorang muslim dalam ucapan dan amalannya, dalam ibadah kepada Rabbnya dan mu’amalahnya kepada sesama hamba Allah. Abdullah bin al Mubaarak berkata : “Akhlaq yang baik ialah wajah yang berseri, menyebarkan kebajikan, menahan gangguan, dan hendaklah kamu memberikan `udzur kepada manusia”.

Saya wasiatkan kepada pengajar hendaklah berakhlaq yang baik dengan sahabat-sahabatnya, dengan para muridnya, bahkan dengan wali-wali muridnya, dan hendaklah berlemah lembut dalam bermu`amalah dengan mereka.

Al Imam Muslim telah meriwayatkan satu hadist dalam shohihnya dari jalan `Aisyah radhiallahu `anha bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه

“Tidak terdapat kelembutan pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak dicabut kelembutan dari sesuatu kecuali merusaknya”.[8]

Dan sesungguhnya Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling baik akhlaqnya. Maka barangsiapa yang ingin sampai kepada akhlaq yang mulia, hendaklah dia ber-uswah dengan Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam. Diriwayatkan dalam sunan at -Tirmidziy dari jalan Anas bin Malik radhiallahu `anhu, beliau bersabda :

خدمت النبي عشر سنين، فما قال لي أف قط، وما قال لشيء صنعته: لم صنعته؟ولا لشيء تركته: لم تركته؟

“Saya menjadi pembantu Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun, sama sekali beliau tidak pernah berkata uffin (menggerutu) pada saya, dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang saya perbuat : “kenapa kamu kerjakan itu?”, dan juga terhadap sesuatu yang saya tinggalkan: “kenapa kamu tinggalkan itu?”.[9]

Kelima : Hendaklah seorang guru bersemangat dalam mendidik anak didiknya dengan tarbiyatan shalihah.

Dia ajarkan pada mereka tentang perkara-perkara Islam dan Iman, lalu dia tanamkan rasa kecintaan pada Allah dan pengagungan-Nya di hati-hati mereka. Demikian juga kecintaan kepada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, kemudian dia jelaskan pada mereka wajibnya mengikuti beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam, beramal dengan Sunnahnya `alaihis Sholaatu was Salaam, ber-qudwah dengan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, lalu diajarkan pada mereka adab-adab yang baik, dan akhlaq yang mulia, seperti adab-adab masjid, majlis, menghormati guru dan orang yang lebih tua, juga adab dengan teman-teman dan sahabat, dan biasakan kepada mereka bertutur kata yang baik, dan peringatkan mereka dari perkataan yang jelek, dan selain dari yang demikian dari adab-adab yang indah serta sifat-sifat yang mulia.



Sumber: http://www.tazhimussunnah.com/buletin/70-nasehat-untuk-para-pendidik.html

Senin, 08 November 2010

Terjebak


Tet…tet…sekarang menunjukan pukul 12.15. Aku siap-siap ke kamar mandi ambil wudhu persiapan sholaht dzuhur.
Wow, anak-anak udah antrian duluan di kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Ya sudahlah, ambil wudhu di ruang kepala sekolah biar lebih cepat.
Alhamdullah kepala sekolah ternyata ada di ruang tamu berbicang dengan orang tua siswa, itu artinya aku tidak perlu malu untuk masuk ruang beliau, ujarku dalam hati.
Baru melongo ke ruang kepala sekolah, teranya guru sudah antrian juga ambil wudhu tapi tidak sebanyak antrian anak. Sembari menuggu antrian aku tegur sapa dulu dengan satpam.

Aku lihat kembali ruang kepala sekolah memastikan kalu guru sudah ambil wudhu. Alhamdullah sekarang giliranku ambil wudhu.
“Sudah pak ambil wudhunya”
“Sudah bu, silahkan. Kami duluan ke musolah bu” tegur mereka
“Ia pak, terimakasih”
Tanpa basa basi langsung masuk ruangan dan melepas kaos kaki dan kuletakan HP diatas meja. Auzubillahminasyaitonnirajim, langsung melangkah kaki kiri menuju kamar mandi.
Cekek.. bunyi pintu kamar mandi ku dorong hingga tertutup.
Ya allah aku baru sadar , ternyata setelah ku lihat pegangan pintu sudah terlepas.
Ku pegang sisa gagang pintu dengan sekuat tenaga.
Hek..hek..ku tarik lagi sisa gagang pintu, namun pintunya belum juga mau terbuka.
Ya allah, aku terjebak dalam ruang kamar mandi kepala sekolah.

Dengan perasan cemas dan malu bercampur dihati.
Ya allah, alangkah sayangnya Engkau dengan hamba-Mu ini , Engkau uji aku karena aku mampu melakukannya.
Bagaimanapun caranya aku tidak akan minta tolong dengan cara berteriak. Aku akan berusaha semampunya dan memohon pertolongan allah, tekatku dalam hati.
Ku ambil nafas dalam-dalam, selanjutnya ku tenangkan diri untuk langsung mengambil wudhu. Setelah diri merasa tenang. Ku lihat di sekitar kamar mandi yang ada kunci pintu dan besi penutup pintu.
Ku ambil besi pintu untuk kucoba masukan disela-sela pintu, namun cara ini belum juga berhasil. Ku ulangi lagi dengan cara yang sama namun gagal juga.
Ya allah, izinkan hamba-Mu ini sholat berjama di musolh lirihku dalam hati.
Ku coba kembai dengan menggunakan kunci pintu. Ku masukan kunci pintu di sela-sela pintu, kutekan dan kutekan dengan sekuatnya. Namun pintu belum juga mau terbuka.
Perasaan ku cemas kembali, Ku pakas menarik pintu dengan sisa gagang pintu sekuat tenaga namun gagal juga.

Ya allah, izinkan hamba-Mu yang dzolim ini mlaksanakan sholat dzuhur berjamaa, liriku kembali.
Ku coba menenangkan kembali hati ini, dengan berbaik sangka bahwa pintu ini akan terbuka.
Aku ambil kunci pintu kumasukan kembali disela-sela pintu, ya allah izinkanlah pintu ini terbuka.
Ku tekan dan kutekan lagi kunci pintu, ya allah bantulah hamba-Mu ini.
Cekek..bunyi pintu berhasil ku buka, ya allah terimaksih atas bantuan-Mu.
Perasaan ku haru, ingin rasanya sujud syukur atas pertolongan allah hari ini, namun langkahku langsung menuju musolah takut ketinggalan sholat berjamaa. Ingin kutumpahkan semua di sajadah atas kejadianku hari ini.
Alhamdullah ternyata allah masih mengizinkan aku sholat berjamaa. Ingin tumpah air mata ini mengingat kembai ketidak mampuanku terjebak di dalam kamar mandi.
“Sudah lama sholat berjamaanya nak” tanyaku dengan anak-anak di luar musolah
“Belum bu, mukenah habis dipakai teman-teman yang sholat duluan”
“Kami sholatnya giliran kedua bu dan ibu jadi imam ya” jawab merka
“Insyallah nak” jawabku

Syukron ya allah telah mengatur rencana hidupku hari ini, engkau izinkan hamba sholat berjamaa dengan menjadi imam bukan mejadi makmu sesuai dengan rencanaku.
Indahnya hidup ini jika kita berbaik sangka dengan ujian allah karena allah berada pada perasangka hamba-Nya.

Tutuplah Aib Saudaramu.. Wahai Muslimah


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.”…

Saudariku muslimah…

Bagi kebanyakan kaum wanita, ibu-ibu ataupun remaja putri, bergunjing membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan di mata mereka terbilang remeh, ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seolah-olah obrolan tidak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain. “Si Fulanah begini dan begitu…”. “Si ‘Alanah orangnya suka ini dan itu…”.

Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

Perbuatan seperti ini selain tidak pantas/tidak baik menurut perasaan dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata, “Aku mendapati orang-orang yang tidak memiliki cacat/cela, lalu mereka membicarakan aib manusia maka manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang-orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.”1

Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua:

Pertama: Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti ini tergelincir dalam kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji2 di kalangan orang-orang beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat….” (An-Nur: 19)

Kedua: Seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang-terangan, tanpa malu-malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati-hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup-tutupi kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan, melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya3.

Saudariku muslimah…

Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

“Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya….” (HR. Muslim no. 2699)

Bila demikian, engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudaranya sesama muslim yang memang menjaga kehormatan dirinya, tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya di tengah manusia ia dikenal sebagai orang baik-baik dan terhormat. Siapa yang menutup aib seorang muslim yang demikian keadaannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.

Namun bila di sana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutupnya akan menambah kejelekan, maka tidak apa-apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek/aib/cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang bisa memberinya hukuman. Jika ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru di sebuah sekolah maka disampaikan kepada mudir-nya (kepala sekolah). Demikian seterusnya4.

Yang perlu diingat, wahai saudariku, diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula, orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada di dalam rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420, 421,424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud: “Hasan shahih.”)

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi:

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesema muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725, 1/581)

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memandang ke Ka’bah, ia berkata:

“Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya di sisi Allah darimu.”7

Karena itu saudariku… Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutup. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akhirat. Siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tutup celanya di dunianya, di hari akhir nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menutup celanya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya8.” (HR. Muslim no. 6537)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/291).

2 Baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar-benar terjatuh dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar.

3 Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/293), Syarhul Arba’in Ibnu Daqiqil Ied (hal. 120), Qawa’id wa Fawa`id minal Arba’in An-Nawawiyyah, (hal. 312).

4 Syarhul Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (hal. 390-391).

5 Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dalam hatinya.

6 Yang dimaksud dengan aurat di sini adalah aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia. (Tuhfatul Ahwadzi)

7 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2032

8 Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang-orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” Namun kata Al-Qadhi, sisi yang pertama lebih nampak karena adanya hadits lain.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/360)

Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya (di hari penghisaban nanti) Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang-orang yang hadir di mahsyar). Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu adalah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan).’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosanya dan ia memandang dirinya akan binasa karena dosa-dosa tersebut, Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya…”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu
ilaika.....

**************************************

(Kiriman sahabat FBku Abu Vhieran Al-Mughirah; November 6)

(Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Kamis, 04 November 2010

Tips Untuk Ciptakan Persaudaraan Sejati ..


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...

Anda ingin nasehat yang anda sampaikan didengar dan disimak? Tidak ada salahnya jika anda meluangkan waktu untuk membaca artikel berikut.

Islam Terbangun Di Atas Nasehat

Agama ini memerintahkan pemeluknya untuk menggalakkan budaya nasehat. Nasehat akan memperbaiki kepribadian seorang yang dahulunya buruk. Nasehat pulalah yang mampu menciptakan persaudaraan yang sejati. Namun, kesemuanya itu barulah dapat terwujud apabila nasehat yang disampaikan dapat membekas dan meresap di dalam jiwa.

Allah ta’ala memerintahkan nabi untuk memberikan nasehat yang dapat mempengaruhi jiwa para pendengarnya,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا (٦٣)

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka wejangan/nasehat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (An Nisaa: 63).

Imam Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, maksudnya adalah dalam tujuan nasehat diketahui dan membekas di dalam jiwa mereka (Fathul Qadir 1/729; Asy Syamilah).

Nasehat yang Sukses

Sukses dalam memberikan nasehat haruslah memperhatikan beberapa kriteria berikut:

Topik yang sesuai

Nasehat haruslah disampaikan dengan memperhatikan topik yang dibutuhkan oleh para pendengar. Jangan sampai anda memberikan nasehat dengan topik yang tidak mereka butuhkan.

Sebagai permisalan, apabila anda melihat mayoritas manusia lebih memprioritaskan kehidupan dunia daripada mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, maka topic yang seharusnya disampaikan adalah menghasung mereka untuk cinta kepada akhirat dan berlaku zuhud (tidak tamak) terhadap dunia.

Namun, jika seorang menasehati mereka untuk tidak berlebih-lebihan dalam beribadah, sementara mereka belum mampu untuk melaksanakan berbagai ajaran agama yang sifatnya wajib, maka topik nasehat yang disampaikan pada saat itu tidaklah tepat, karena unsur hikmah dalam memilih topik kurang diperhatikan.

Bahasa yang fasih dan runut

Kefasihan sangat dituntut dalam nasehat yang hendak disampaikan. Sahabat pernah mengatakan,

وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا بَعْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ ….

“Selepas shalat Subuh, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat yang sangat menyentuh, hati kami bergetar dan air mata pun berlinang.” (HR. Tirmidzi: 2676. Diabsahkan oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashabih: 165).

Maka seorang pemberi nasehat hendaknya menyampaikan nasehat dengan lafadz yang terbaik, yang paling mampu menyentuh jiwa para pendengar, sehingga merekapun tertarik untuk mendengarnya.

Waktu dan kondisi yang tepat

Waktu yang tepat juga turut berpengaruh. Seorang pemberi nasehat hendaknya memilih momen yang tepat untuk menyampaikan nasehatnya.

Pada hadits yang lalu, dapat kita perhatikan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wejangan kepada para sahabatnya di waktu Subuh. Pada waktu tersebut, tubuh sedang berada dalam kondisi puncak, setelah di waktu malam beristirahat. Demikian pula, pada waktu tersebut, pikiran masih jernih, belum terbebani.

Maka seorang pemberi nasehat harus mampu memperhatikan kondisi orang yang hendak dinasehati, apakah pada saat itu dia siap menerima nasehat ataukah tidak.

Jangan bertele-tele

Nasehat juga janganlah bertele-tele dan panjang sehingga membosankan. Abu Wa-il pernah mengatakan, “Ammar radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan khutbah kepada kami secara ringkas namun mengena. Ketika selesai, maka kami mengatakan kepada beliau, “Alangkah baiknya jika anda memperpanjang khutbah” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya saya pernah mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya panjangnya shalat seorang dan pendeknya khutbay yang disampaikan olehnya merupakan tanda akan kefakihan dirinya” Maka hendaklah kalian memperpanjang shalat dan memperpendak khutbah.”
(HR. Muslim: 869).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan kepada uamtnya untuk tidak bertele-tele dan berlama-lama dalam menyampaikan nasehat karena hal itu akan menyebabkan pendengar bosan.

Karakter Sang Pemberi Nasehat

Materi yang bagus memang turut berpengaruh terhadap suksesnya nasehat, namun sang pemberi nasehat pun harus menghiasi dirinya dengan beberapa hal berikut:

Yakin akan apa yang diucapkan

Pemberi nasehat merupakan orang yang pertama kali harus meyakini akan apa yang akan diucapkan dalam nasehatnya, dialah yang pertama kali harus terpengaruh terhadap nasehat yang hendak disampaikan.

Ammar bin Dzar rahimahullah pernah ditanya oleh anaknya, “Mengapa tatkala orang lain berbicara, tidak ada satupun yang menangis. Namun, ketika engkau berbicara, wahai ayahku, kami mendengar tangisan dimana-mana?” Maka Ammar menjawab, “Wahai anakku, nasehat yang tulus tidaklah sama dengan nasehat yang direkayasa.” (Hilyatul Auliya 5/111; Ihya Ulumiddin 4/187; Asy Syamilah).

Anda dapat memperhatikan apabila nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada para sahabat. Beliau menyampaikan nasehat dengan serius, dengan suara yang tinggi sedang mata beliau memerah, seakan-akan saat itu beliau sedang mengomandoi pasukan. Ini menunjukkan keyakinan beliau akan kandungan yang terdapat dalam nasehat beliau.

Oleh karena itu, sahabat Irbadh radhiallahu ‘anhu pun menggambarkan bahwa nasehat beliau merupakan nasehat yang menggetarkan jiwa dan mampu membuat air mata ini berlinang.

Hati yang Bebas Penyakit

Tulusnya nasehat merupakan buah dari hati yang bersih dari penyakit. Seorang yang memiliki hati yang berpenyakit, maka dapat dipastikan bahwa nasehat yang disampaikannya tidaklah mampu menghunjam dalam hati pendengarnya. Tengok kembali perkataan Ammar bin Dzar rahimahullah di atas! Apabila hati yang dipenuhi penyakit ini diiringi dengan akhak yang buruk, maka nasehat yang diucapkan pun tentu hanya dianggap sebagai angin lalu.

Teladan yang Baik

Seorang pemberi nasehat haruslah menjadi qudwah (teladan) dalam perkataan dan perbuatan, karena orang yang mendengar nasehatnya mesti akan memperhatikan gerak-geriknya. Jika ternyata orang yang senantiasa memberikan nasehat kepada mereka justru melanggar wejangan yang diberikan, maka mereka akan meremehkannya dan akan berpaling, tidak menghiraukan dirinya dan nasehatnya lagi. Betapa banyak kita menjumpai da’i-’da’i yang tidak mampu mendorong dirinya untuk menjadi teladan yang baik bagi para mad’u (objek dakwah)-nya.

Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi
wa barakatuh.

****************************
(Kiriman sahabat FBku; Abu Azvhierandha October 31 )

Ilmu Adalah Pemimpin Amal !!!


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin....

Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.”
(Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)


Bukti bahwa ilmu lebih didahulukan daripada amalan

Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)” Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad [47]: 19)

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

menulis-1Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1/108)

Keutamaan ilmu syar’i yang luar biasa

Setelah kita mengetahui hal di atas, hendaklah setiap orang lebih memusatkan perhatiannya untuk berilmu terlebih dahulu daripada beramal. Semoga dengan mengetahui faedah atau keutamaan ilmu syar’i berikut akan membuat kita lebih termotivasi dalam hal ini.

Pertama =>
Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan di dunia

Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS Al Mujadalah: 11)

Kedua =>
seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan manusia untuk urusan agama dan dunia meraka.

Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita, kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Kemudian dia ingin bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara penduduk bumi yang paling berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia bertanya kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat untuknya. Ahli ibadah menganggap bahwa dosanya sudah sangat besar sehingga dia mengatakan bahwa tidak ada pintu taubat bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka dibunuhlah ahli ibadah sehigga genap 100 orang yang telah dibunuh oleh laki-laki dari Bani Israil tersebut.

Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat untukku.” Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.

Ketiga =>
Ilmu adalah warisan para Nabi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.”
(HR. Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Keempat, orang yang berilmu yang akan mendapatkan seluruh kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.”
(Majmu’ Al Fatawa, 28/80)

Ilmu yang wajib dipelajari lebih dahulu

Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang menuntut untuk diamalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum tertuntut untuk diamalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu mengenai tauhid, mengenai 2 kalimat syahadat, mengenai keimanan adalah ilmu yang wajib dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar yang harus diketahui.

Kemudian ilmu mengenai shalat, hal-hal yang berkaitan dengan shalat, seperti bersuci dan lainnya, merupakan ilmu berikutnya yang harus dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu tentang mualamalah dan seterusnya.

Contohnya seseorang yang saat ini belum mampu berhaji, maka ilmu tentang haji belum wajib untuk ia pelajari saat ini. Akan tetapi ketika ia telah mampu berhaji, ia wajib mengetahui ilmu tentang haji dan segala sesuatu yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang tauhid, tentang keimanan, adalah hal pertama yang harus dipelajari karena setiap amalan yang ia lakukan tentunya berkaitan dengan niat. Kalau niatnya dalam melakukan ibadah karena Allah maka itulah amalan yang benar. Adapun kalau niatnya karena selain Allah maka itu adalah amalan syirik. Ini semua jika dilatarbelakangi dengan aqidah dan tauhid yang benar.

Penutup

Marilah kita awali setiap keyakinan dan amalan dengan ilmu agar luruslah niat kita dan tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada tuntunan (alias bid’ah). Ingatlah bahwa suatu amalan yang dibangun tanpa dasar ilmu malah akan mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,

من عبد الله بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”
(Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar tidak serupa dengan orang Yahudi. Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah- mengatakan,

مَنْ فَسَدَ مِنْ عُلَمَائِنَا كَانَ فِيهِ شَبَهٌ مِنْ الْيَهُودِ وَمَنْ فَسَدَ مِنْ عِبَادِنَا كَانَ فِيهِ شَبَهٌ مِنْ النَّصَارَى

“Orang berilmu yang rusak (karena tidak mengamalkan apa yang dia ilmui) memiliki keserupaan dengan orang Yahudi. Sedangkan ahli ibadah yang rusak (karena beribadah tanpa dasar ilmu) memiliki keserupaan dengan orang Nashrani.” (Majmu’ Al Fatawa, 16/567)

Semoga Allah senantiasa memberi kita bertaufik agar setiap amalan kita menjadi benar karena telah diawali dengan ilmu terdahulu. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang sholeh yang diterima, dan rizki yang thoyib.

Alhamdulilllahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.Wa shallallahu ‘ala nabiyyina
Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***********************************
(Kiriman sahabat FBku ; Abu Azvhierandha October 25)

Keutamaan Membaca Al-Quran


Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya dari Utsman r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya".

Dari Abu Umamah ra. dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Bacalah Al Qur'an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya."
(Riwayat Muslim)

Dari Nawwas bin Sam'an ra. telah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Di hari Akhirat kelak akan didatangkan Al Qur'an dan orang yang membaca dan mengamalkannya, didahului dengan surat Al Baqarah dan Surah Ali 'Imran, kedua-duanya menjadi hujjah (pembela) orang yang membaca dan mengamalkannya."
(Riwayat Muslim)

Dari Usman bin 'Affan ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya."
(Riwayat Bukhari)

Dari Aisyah ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang membaca Al Qur'an dengan terbata-bata karena susah, akan mendapat dua pahala."
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Dari Abu Musa Al Asy'ari ra. telah berkata: Rasulullah saw.bersabda, "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur'an seperti buah Utrujjah (sejenis limau), baunya harum dan rasanya sedap. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur'an seperti buah kurma, tidak ada baunya tapi rasanya manis.
Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur'an seperti Raihanah (jenis tumbuhan), baunya wangi tapi rasanya pahit.
Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur'an seperti buah hanzhal (seperti buah pare), tidak berbau dan rasanya pahit.
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Dari Umar bin al Khatthab ra. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebagian orang dan merendahkan sebagian lainnya dengan sebab Al Qur'an."
(Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Muhammad saw. telah bersabda, "Tidak boleh iri kecuali pada dua perkara: Laki-laki yang dianugerahi (kefahaman yang sahih tentang) Al Qur'an sedang dia membaca dan mengamalkannya siang dan malam, dan laki-laki yang dianugerahi harta sedang dia menginfakkannya siang dan malam."
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Dari Barra' bin 'Azib ra. telah berkata: Seorang laki-laki membaca surat Al Kahfi dan di sisinya ada seekor kuda yang
diikat dengan dua tali panjang, tiba-tiba ada awan melindunginya dan semakin mendekat dan kudanya menjauhinya. Pagi-paginya laki-laki itu mendatangi Nabi Muhammad saw. dan menceritakan peristiwa tersebut, maka beliau bersabda, "Itu adalah ketenangan yang turun karena Al Qur'an."
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Dari Ibnu 'Abbas ra. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sesuatu pun dari Al Qur'an laksana sebuah rumah yang runtuh."
(Riwayat Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)

Dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash ra. dari Nabi Muhammad saw. beliau bersabda, "Akan dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur'an: Baca, tingkatkan dan perindah bacaanmu sebagaimana kamu memperindah urusan di dunia, sesungguhnya kedudukanmu pada akhir ayat yang engkau baca."
(Riwayat Abu Daud dan Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)

Dari 'Uqbah Bin 'Amir ra. berkata; Rasulullah saw. keluar dan kami berada di beranda masjid. Beliau bersabda: "Siapakah di antara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau 'Aqiq dan kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk sedang dia tidak melakukan dosa dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi?" Kami menjawab, "Kami ingin ya Rasulullah" Lantas beliau bersabda, "Mengapa tidak pergi saja ke masjid; belajar atau membaca dua ayat Al Qur'an akan lebih baik baginya dari dua ekor unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, demikianlah seterusnya mengikuti hitungan unta."
(Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Mas'ud ra. bahawasanya Nabi Muhammad saw. bersabda, "Yang paling layak mengimami kaum dalam shalat adalah mereka yang paling fasih membaca Al Qur'an."
(Riwayat Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahawasnya; Ketika Nabi Muhammad saw. mengumpulkan dua mayat laki-laki diantara korban perang Uhud kemudian beliau bersabda, "Siapa diantara keduanya yang lebih banyak menghafal Al Qur'an?" dan ketika ditunjuk salah satunya beliau mendahulukannya untuk dimasukkan kedalam liang lahad.
(Riwayat Bukhari, Tirmizi, Nasa'i & Ibnu Majah)

Dari Imran bin Hushoin bahawa beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al Qur'an kemudian dia berdoa kepada Allah lalu ia kembali membaca, lantas dia berkata aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang membaca Al Qur'an maka berdoalah kepada Allah dengan Al Qur'an karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membaca Al Qur'an dan orang-orang berdo'a dengannya."
(Riwayat Tirmizi, beliau berkata : Hadits ini hasan)

Dari Ibnu Mas'ud ra. ia berkata: Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan sama dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud 'Alif, Laam, Miim' satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.
(Riwayat Ad Darami dan Tirmizi, beliau berkata hadits ini hasan sahih)

***********************
(Kiriman sahabat FBku,Khilafah Moeslim Defender)