Senin, 13 Desember 2010

Keimanan

Andai matahari di tangan kanan ku
tak kan mampu mengubah yakin ku...
terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati...

Bila kah rembulan di tangan kiri ku
tak kan sanggup mengganti iman ku...
jiwa dan raga ini apapun adanya...

Andaikan seribu siksaan...
terus melambai-lambaikan...
derita yang mendalam
seujung rambut ku
aku tak kan bimbang
jalan ini yang ku tempuh...

Bila kah ajalkan menjelang...
jemput rindu-rindu...
syahit yang penuh kenikmatan
cinta ku hanyalah untuk-Mu
tetapkan muslim ku selalu...

By : Haris Shaff Fix
-------
Subahanallah syair nasyed ini membuat diri ini teringat akan perjuanagan Rasulallah yang luar biasa. Perjalan hidup yang menjadikan insprasi dalam kehidupan kita. Keimanan tak akan terbeli dengan apapun ; harta, tahta ataupun wanita. Ia ada dalam lubuk hati dan tak akan terganti hingga kenikmatan syahit menjelang. Semoga kita berada dalam nikmatnya keimanan yang tertanam di hati hingga robbi menjemput keimanan kita dengan senyuman. Amin

Muhasaba Cinta

Wahai pemilik nyawaku...
Betapa lemah diriku ini...
Berat ujian dari-Mu...
Ku pasrahkan semua... pada-Mu...
Tuhan baru kusadar indah nikmat sehat itu...
Tak pandai ku bersukur
Kini ku harapkan cinta-Mu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berzikir dikidung doa ku
Sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosa ku
Butir-butir cinta air mata ku
Teringat semua yang KAU beri untuk ku
Ampuni khilaf dan salah...
Selama ini ya ilahi
Muhasabah cinta ku...

Tuhan kuat kan aku lindungi ku dari putus asa
Jika ku harus mati pertemukan ku dengan-Mu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berzikir dikidung doaku
Sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang kau beri untuk ku
Ampuni khilaf dan salah...
Selama ini ya ilahi
Muhasabah cinta ku...

Senin, 22 November 2010

Mencintai dengan Meneladani


Biismillhir rohmaanir rohiim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alkisah di negeri Arab ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus keluar rumah untuk mencari uang.

Di depan sebuah masjid, dia bertemu seorang muslim dan meminta bantuannya, “Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu” kata janda itu menghiba.
“Mana buktinya?” tanya lelaki muslim itu.
Janda itu tidak dapat membuktikan karena dia sendiri orang asing di tempat itu. Akhirnya lelaki itu tidak menolongnya.

Setelah itu, janda miskin itu bertemu dnegna orang Majusi. Dia pun meminta bantuannya. Orang Majusi itu mengajak ke rumahnya, memuliakannya dan memberinya uang dan pakaian.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi berjumpa dengan Rasulullah. Semua orang mendatangi Nabi dan beliau menyambut mereka dnegan baik. Ketika tiba giliran lelaki itu menghadap Rasulullah, beliau mengusirnya dan menyuruhnya pergi. Lelaki itu berteriak, “Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga”
Rasulullah bertanya, “Mana buktinya?”

Lelaki itu tersadar, Rasulullah menyindirnya karena dia telah meminta bukti saat dimintai pertolongan. Dia menangis, Rasulullah lalu menunjukkan sebuah taman indah dan hunian indah di surga.
“Lihat ini,” tutur Rasulullah. “Seharusnya semua ini kuberikan kepada mu. Tetapi karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, kuberikan semua ini pada seorang Majusi”

Pagi harinya lelaki itu terbangun. DIa mencari janda miskin itu. Ternyata dia menemukannya sedang berada di rumah seoragn Majusi. “Ikutlah kau bersamaku,” pinta lelaki itu pada si janda. Tetapi orang Majusi tidak mau menyerahkannya. AKu akan beri kau ribuan dinar asal kau mau menyerahkannya,” pinta si lelaki muslim. Orang Majusi itu tetap dtidak mau. Lelaki itu akhirnya jengkel dan berkata. “Janda ini orang Islam. Seharusnya yang menolongnya sesame muslim juga!”

Orang Majusi itu lalu bercerita, “Tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah. Dia mengatakan akan memberikan kepadaku surga yang semula akan diberikan kepadamu. KEtahuilah, pagi ini ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikutnya karean aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang pencintanya”

Begitulah. Cinta laksana air mengalir yang memindahkan seluruh sifat dan karakter kekasih kepada yang mencintainya. Bukti nyata kita mencintai Rasulullah adalah meneladani akhlaknya dan setia mengikuti sunnahnya.

Rasulullah bersabda, “Orang yang paling aku cintai dan paling dekat kepadaku di antara kalian di akhirat kelak adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling kubenci dan paling jauh dariku di akhirat adalah orang yang paling buruk akhlaknya, yaitu orang yang banyak bicara, suka ngobrol dan suka melecehkan orang lain”
(HR Ahmad)

Dalam riwayat Anas bin Mlaik, Nabi bersabda: “Anakku! JIka kamu mampu pada pagi dan sore hari, dan dihatimu tidak ada kedengkian pada seseorang maka lakukanlah itu”
Lalu Nabi bersabda lagi, “Anakku! Yang dmeikian itu adalah diantara sunnahku. Siapa saja yang menghidupkan sunnahku maka dia sungguh telah mencintaiku. Siapa saja yang mencintaiku maka dia kana bersamaku di surga kelak” (HR Tirmidzi)

“Katakan, (wahai Muhammad), ‘JIka kalian (benar benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa dosa kalia’. Allah Maha Pengampun dna Maha Penyayang”
(QS Al Imran, 3:31)

Al Quran menuturkan, “Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. Berat baginya apa yang kamu derita, sangat ingin agar kamu mendapatkan kebahagiaan. DIa sangat pengasih dan penyayang (raufur rahim) kepada orang orang yang beriman”
(QS At Taubah 9:128).

Bagaimana kita dapat ikut merasakan penderitaan orangorang di sekitar kita? Bagaimana kita menjadi ornag yang berusaha agar orang lain hidup bahagia dan memperoleh petunjuk Allah? Bagaimana kita menumbuhkan sikap raufur rahim didalam diri kita seperti Rasulullah mencontohkan kepada kita?

Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah tetapi dia tidak mencintai RasulNya, bohonglah ornag yang mengaku mencintai RasulNya tetpai dia tidak mencintai kaum fakir dan miskin. Dna bohonglah orang yang mengaku mencintai surga tetapi dia tidak mau menaati Allah SWT. Demikian ditegaskan Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulum al Din.

Jiwa kita akan bersama dengan orang yang kita cintai. Rasulullah menganjurkan kita untuk mencintai beliau dan ahli baitnya. Karena bila kita mencintainya dengan tulus maka prilaku kita akan sesuai dengan prilaku Rasulullah dan keluarganya. Kita akan bertingkah laku seperti apa yang dikehendaki Rasulullah. Seluruh kejadian yang menimpa Rasulullah dan keluarganya akan mempengaruhi emosi dan perasaan kita.
Kita tidak dapat mengandalkan amal kita yang terbatas. Kita sangat tergantung dan mendambakan rahmat Allah. Siapa lagi yang menjadi rahmat bagi semua alam selain Rasulullah?~~

Tidak beriman seseorang sehingga aku lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri …………….[HR Bukhari dan Muslim]

(Kiriman sahabat FBku Abu Azvhierandha November 20)

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Selasa, 16 November 2010

Sederhana dalam Ibadah


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabrakatuh ..

Ada seorang pemuda, sebut saja si Fulan. Dulu dia seorang yang rajin beribadah. Kalau masalah shalat wajib berjama’ah jangan ditanya, dia tidak pernah ketinggalan mengerjakannya.
Shalat malam?! dia pun ahlinya. Baca Al-Qur’an?! sudah berkali-kali khatam. Puasa senin-kamis?! itu rutinitas mingguannya. Menghadiri pengajian?! Lha wong ustadznya saja sangat dekat dengan dia karena saking rajinnya menghadiri pengajian.

Namun itu cerita dulu. Sekarang si Fulan telah berubah. Alhamdulillah tidak sampai berubah “180 derajat”. Tapi ibadah-ibadah yang dulu dia geluti sekarang hampir semuanya dia tinggalkan. Lho kenapa ya?!

Mengenal Penyakit Futur
Mungkin yang sekarang menimpa si Fulan -atau orang yang sejenisnya- adalah rasa futur dalam mengerjakan ibadah. Futur adalah suatu masa dimana seseorang yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba menjadi lemah, seolah semangatnya itu lenyap ditelan waktu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Setiap amal perbuatan itu memiliki puncak semangatnya, dan setiap semangat memiliki rasa futur.” (HR.Ahmad)

Hindari Sikap Berlebihan
Salah satu hal yang menjadikan ajaran Islam ini sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah dilarangnya sikap berlebihan dalam beribadah dan tercelanya perbuatan tersebut.

Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya kisah tiga orang sahabat yang mendatangi rumah istri-istri Rasulullah demi menanyakan bagaimana beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beribadah. Setelah mereka bertiga diberitahu tentang hal tersebut mereka merasa minder, lalu berkata, “Kita ini siapa dibandingkan dengan Rasulullah?! padahal beliau seorang yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.”
Kemudian salah seorang dari mereka bertiga berkata, “Kalau begitu aku akan shalat malam terus menerus (dan tidak tidur).”
Yang satunya lagi berkata, “Adapun aku, aku akan berpuasa seharian penuh dan tidak berbuka.”

Yang lainnya lagi berkata, “Kalau aku, aku akan memisahkan diri dari wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya bertanya, “Apakah kalian yang tadi berkata demikian dan demikian?!. Adapun aku, demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi bersamaan dengan itu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat dan aku pun tidur. Aku pun menikah dengan para wanita. Dan siapa saja yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seseorang yang berlebih-lebihan dalam agama kecuali akan terkalahkan.” (HR. Bukhari)

Bahkan Rasulullah sendiri saja terkadang tidak memperpanjang shalatnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Abu ‘Abdillah Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhuma, “Aku pernah shalat bersama Nabi. Shalat beliau tidak lama, demikian pula dengan khutbahnya.”
(HR. Muslim). Al-Imam An-Nawawi menerangkan bahwa maksudnya adalah shalatnya tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.

Sedikit Asal Rutin, Itu Kuncinya
Untuk ibadah-ibadah yang hukumnya tidak wajib, kita boleh untuk tidak mengerjakannya secara menyeluruh. Bahkan yang terbaik dalam beramal adalah mengerjakan yang kita bisa meskipun tidak banyak asal dengan syarat : RUTIN.

Inilah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya, “Amalan yang paling dicintai adalah yang rutin walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘alahi)

Rasulullah juga pernah menasehati ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, “Wahai ‘Abdullah, janganlah kau menjadi seperti orang itu. Dulu ia rajin qiyamul lail, namun kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Harus Sesuai Syari’at
Sebuah pemahaman yang patut dimengerti oleh setiap muslim adalah bahwa amalan itu hanya dapat diterima jika memenuhi 2 syarat utama:
(1) ikhlas hanya karena Allah, dan
(2) mengikuti apa yang telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau salah satu keduanya tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.

Sah-sah saja kita beramal dengan berbagai macam ibadah selagi kita mampu, namun yang perlu diperhatikan juga ialah amalan-amalan tersebut hendaknya bersumber dari 2 syarat tadi. Jika amalan yang kita kerjakan selama ini ternyata hanya sekedar ‘produk buatan’ manusia saja (tidak sesuai dengan syariat, membuat ibadah baru), apalagi ditambah dengan ketidak-ikhlasan kita, maka yakinilah bahwa amalan tersebut pasti tertolak.

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang membuat-buat ajaran baru yang bukan berasal dari kami maka ia tertolak.” (HR.Muslim)
Dan masih ingat dengan kisah 3 orang sahabat tadi?! Bukankah amalan-amalan yang mereka lakukan itu semuanya baik bila kita melihatnya dengan sekilas saja (shalat semalam suntuk dengan tidak tidur, puasa seharian penuh dengan tidak berbuka, dan bersikeras untuk tidak menikah) ?! Akan tetapi Rasulullah membencinya disebabkan ketidaksesuaian amalan-amalan tersebut dengan syari’at Islam.

Betapa indahnya perkataan seorang ‘Abdullah bin Mas’ud terkait masalah ini, “Sederhana dalam mengikuti Sunnah itu jauh lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam mengerjakan amalan-amalan baru yang tidak pernah dicontohkan Nabi.”

Jangan Disalahpahami !

Apa yang baru saja kami paparkan bukanlah pembelaan untuk mereka yang bermalas-malasan dalam beribadah dan bukan pula celaan bagi mereka yang berusaha memperbanyak amalan shalih. Jangan sampai ada dari kita yang malah memandang sinis orang-orang yang rajin beribadah seraya mengatakan, “Jadi orang Islam itu ga usah fanatik kayak gitu lah.”

Tapi mari kita sama memperbanyak amalan shalih sebagai bekal kita menuju kehidupan akhirat kelak. Beribadahlah sesuai kesanggupan. Mari sama-sama berangkat ke masjid selama masih diberi kesanggupan oleh Allah. Yuk sama-sama mengaji agar kita bisa kenal agama. Ayo shalat malam selagi kita masih sehat wal ‘afiat. Kalau ada rezeki maka infakkan fi sabilillah, dan tabung untuk bisa berangkat haji ke tanah suci. Begitu juga dengan ibadah yang lainnya, kerjakan selagi mampu dan jangan memaksakan diri. Rutinkanlah ibadah tertentu yang patut Anda banggakan nanti dihadapan Allah. Serta jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita dan saudara-saudara kita tetap diberi ke-istiqomah-an dalam menjalankan ibadah-ibadah tersebut.

Dan bagi Anda yang sanggup melakoni segala macam ibadah, bersyukurlah. Karena sesungguhnya kesanggupan Anda tersebut tidak lain adalah anugerah dari Allah Ta’ala, bukan semata-mata karena kekuatan fisik Anda....Wallahu'alam Bishawab ..

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إلي


[Buletin An-Nashihah ]

(kiriman sahabat FBku; Abu Azvhierandha November 13)

Jumat, 12 November 2010

Serba serbi Isotonik


Saya melihat iklan minuman isotonik yang marak di televisi. Saya miris dan tergelitik untuk mengomentari iklan yang lugas namun dapat menyesatkan. Sebelumnya saya perlu menekankan, bahwa tulisan saya ini tidak memiliki tendensi apa-apa. Tidak juga bermaksud menjelek-jelekkan produk isotonik dan menciptakan kesan negative terhadap produk ini. Saya hanya mencoba untuk memberikan informasi yang berimbang sehingga masyarakat dapat menentukan dan memutuskan dengan lebih bjaksana.

Minuman isotonik adalah minuman yang mengandung ion-ion yang berguna bagi tubuh, sebagian besar adalah ion Sodium (Na) dan Klorida (Cl). Minuman ini juga diklaim sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang dalam waktu singkat.

Apabila kita berkeringat, natrium dan klorida yang terkandung di dalam tubuh akan keluar melalui pori-pori kulit. Jika kedua zat tersebut tidak digantikan, sel-sel tubuh lama kelamaan akan rusak dan mati. Persoalannya dari manakah tubuh memperoleh zat-zat tersebut? Apakah harus melalui minuman? Jawabannya tidak!!

Minuman isotonik sebetulnya tidak berbeda dengan air putih biasa yang ditambahkan sedikit garam dapur. Garam dapur yang larut dalam air terpecah sebagai ion Na dan Cl. Ion yang sama yang terdapat dalam minuman isotonik. Sehingga tidak berbeda dengan larutan garam. Oleh produsennya, larutan itu lalu di beri tambahan zat lain, seperti vitamin.Dan jangan dikira ion-on ini hanya dapat diperoleh dari minuman. Akan tetapi dari makananpun ion-ion ini bisa diperoleh. Masakan yang diberi garam dapur dan buah-buahan mengandung jumlah ion yang cukup untuk kebutuhan tubuh.

Dalam kondisi normal, tubuh orang dewasa hanya memerlukan 2,3 gram natrium per hari, sedngkan klorida hanya 50-100 mg. Pada anak-anak kebutuhan ion-ion ini tentu saja jauh lebih sedikit. Dalam makanana sehari-hari, sebetulnya kebutuhan in telah tercukupi. 1 ons daging mengandung 70 mg natrium, sementara 10 ons nasi mengandung 10 mg natrium. Bahan makanan lain, seperti telur, daging ayam, kacang-kacangan, buah dan sayur juga mengandung natrium. Oleh karena itu pada kondisi normal, kita sudah tidak memerlukan lagi minuman isotonik.

Dan dibalik kesan manfaat dan kesegarannya, ternyata minuman ini dapat membahayakan bila dikonsumsi berlebihan. Minuman ini hanya cocok dikonsumsi oleh atlet yang menggeluti olah raga berat. Pada atlet olah raga berat kebutuhan natrium lebih tinggi yatu sekitar 5-7 gram per hari. Kelebihan ion-ion tubuh akan menyebabkan hipertensi.

Beberapa iklan isotonik justru berani menyebutkan bahwa minuman ini jauh lebih baik dari air biasa tanpa menjelaskan kondisinya. Iklan-iklan tersebut memperlihatkan dan memakai model oang biasa sebagai konsumen isotonik. Minuman itu juga di tenggak pada kondisi biasa, seperti terjebak macet yang tidak selalu identik dengan keluarnya ion-ion tubuh secara berlebih. Hal ini dapat memberi informasi yang keliru pada masyarakat.

Produsen juga seharusnya mencantumkan berapa jumlah garam dalam minuman isotonik dan juga berapa jumlah garam yang dibutuhkan manusia per hari. Jadi meski keliahatannya menyegarkan, hati-hatilah bila mengkonsumsi isotonik.

Sumber: Kompas, edisi 29 Juni 2008

Posted by Wahyu Riyadi
http://wahyuriyadi.blogspot.com/2008/06/serba-serbi-isotonik.html

Kamis, 11 November 2010

Nasehat Untuk Para Pendidik


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Sahabatku, engaku adalah pendidik bagi dirimu, engkau adalah pengajar bagi adek2mu, engkau adalah pembimbing bagi teman2mu dan engkau adalah tauladan bagi anak2mu. Simaklah dan renungkanlah catatan sederhana ini. Semoga allah ridho dengan hidup kita yang sesaat ini. Amien
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وبعد:

Inilah sebahagian wasiat yang saya wasiatkan pada diri saya dan kepada saudara saya dari kalangan para pendidik. Dan saya meminta kepada Allah Ta’ala semoga kita bisa mengambil manfaat dengannya.

Pertama : Ikhlashkan niat karena Allah Ta`ala dalam mendidik

Mengikhlashkan niat karena Allah Ta`ala dalam mendidik anak-anak didik dan saudara-saudara dari kalangan penuntut ilmu dan mendidik mereka sesuai dengan apa yang diridhoi oleh Rabb Jalla wa `Alaa. Kemudian sabar dan mengharapkan ganjaran atas amalan tersebut dari Allah Subhaana wa Ta`ala dan semata-mata mengharapkan pahala dari-Nya.

Berkata sebagian ahli ilmu : “al-Ikhlash ialah jangan kamu mencari atas amalan engkau saksi selain Allah Ta`ala, tidak juga pemberi ganjaran kepada selainNya. Dan inilah sebenarnya hakikat dari ad Din serta miftah (kunci) dakwah para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Sallaam”.

Allah Jalla Jalaaluhu berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka ber`ibadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) Din yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah Din yang lurus. (QS. Al Baiyyinah : 5)

Dan Allah Ta`ala berfirman :

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ # قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) Din yang benar, Din Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam”. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An`am : 161-163)

Keikhlashan merupakan syarat untuk diterimanya amalan. Sesungguhnya satu amalan tidak akan diterima oleh Allah Ta`ala kecuali dengan dua syarat :

1. Hendaklah amalan tersebut zhohirnya cocok dengan apa yang disyari`atkan Allah Ta`ala dalam kitab-Nya atau dijelaskan oleh Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam.

Al Bukhaari dan Muslim telah meriwayatkan dalam shohih mereka berdua, hadist dari jalan `Aaisyah radhiallahu `anha, bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa yang mengada-ada (mengadakan satu bid`ah) dalam perintah Kami ini yang bukan bagian darinya maka dia tertolak”.[1]

2. Hendaklah amalan tersebut ikhlash semata-mata liwajhillahi Ta`ala.

Imam al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan satu hadist dari jalan `Umar bin al Khotthab radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya seluruh amalan tergantung dengan niat, dan sesungguhnya setiap manusia mendapatkan apa yang dia niatkan”.[2]

Berkata al Fudhail bin `Iyaadh : “Amalan yang paling baik ialah amalan yang paling ikhlash dan paling benar”, kemudian beliau melanjutkan perkataannya : “Sesungguhnya satu amalan apabila ikhlash dilakukan tapi tidak benar (tidak cocok dengan tuntunan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam) tidak akan diterima oleh Allah Jalla Jalaaluhu, dan apabila benar tetapi tidak ikhlash tidak juga diterima, sampai amalan itu betul-betul ikhlash dan benar, al-khoolish (ikhlas) semata-mata karena Allah, dan ash-showab (benar) betul-betul cocok di atas as Sunnah”.[3]

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan tentang ikhlash, yakni dimana seorang hamba mengamalkan satu amalan yang sholih, kemudian dia tidak peduli dengan pantauan manusia atasnya, bahkan kalau amalan sholih tersebut dinisbahkan kepada selain dirinya akan membuat dia gembira. Demikian itu dikarenakan ilmunya dan bahwasanya dia dipelihara disisi Allah Ta`ala.

Dan dikatakan kepada Sahl at Tustariy : “Apa sesuatu yang sangat berat atas jiwa? Kata beliau : “al Ikhlash, karena tidak ada bagi jiwa tersebut bagian – artinya dari bentuk keduniaan – .”

Kedua : Bertakwa kepada Allah Ta`ala, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, baik ketika nampak maupun tidak nampak.

Sesungguhnya takwa kepada Allah `Azza wa Jalla merupakan wasiat untuk orang-orang terdahulu dan sekarang.

Allah Ta`ala berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. (QS. An Nisaa` : 131)

Adalah Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam di kebanyakan wasiatnya untuk para shahabat adalah ketakwaan kepada Allah Ta`ala. Dalam hadist al `Irbaadh ibnu Saariyah bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة

“Saya wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan mentaati para pemimpin”.[4]

Berkata Imam Tholq bin Habiib rahimahullahu Ta`ala : “Yang dikatakan at takwa ialah kamu beramal untuk mentaati Allah dibawah bimbingan cahaya dari Allah, dan kamu mengharapkan ganjaran dari Allah, lalu kamu meninggalkan maksiat kepada Allah dan takut akan adzabNya Jalla Sya`nuhu”.[5]

Berhati-hatilah dari seluruh maksiat besar atau kecil, sesungguhnya Allah Ta`ala telah menjanjikan atas siapapun yang menjauhi dosa-dosa besar akan menghapus dosa-dosa kecilnya, dan akan memasukkannya ke dalam jannah-Nya. Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An Nisaa` : 31)

Artinya, banyaknya kebajikan dan keberkahan adalah dengan berhati-hati dari dosa-dosa kecil. Al-Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dalam shohihnya hadist dari Anas bin Maalik radhiallahu `anhu , beliau berkata :

إنكم لتعملون أعمالا هي أدق في أعينكم من الشعر، إن كنا لنعدها على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من الموبقات

“Sesungguhnya kalian telah mengamalkan amalan-amalan yang dimata kalian lebih halus dari rambut, sesungguhnya kami mengkategorikan di zaman Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam sebagai al-muubiqaat (yang membinasakan)”.[6]

Berkata Abu `Abdillah, yang dimaksudkan ini ialah al Muhlikaat (yang membinasakan).

Berkata al Imam al Auza`iy : “Jangan kamu melihat kepada kecilnya maksiat, akan tetapi lihatlah kepada besarnya siapa yang kamu durhakai”.

Ketiga : Qudwah (teladan) yang baik.

Sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa seorang penuntut ilmu akan terpengaruh dengan gurunya, dia akan senang untuk taqlid pada gurunya dan berqudwah dengannya. Maka diwajibkan atas para pendidik dan pengajar jangan sampai perkataannya menyelisihi perbuatannya, Allah Ta`ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ # كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. As shof : 2-3)

Dan Allah Jalla Sya`nuhu berfirman tentang Nabi-Nya Syu`aib `Alaihis Sholaatu was Sallaam :

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang, aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan, dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (QS. Huud : 88)

Berkata penya`ir :

لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك إذا فعلت عظيم

Jangan kamu melarang dari akhlaq yang jelek lalu kamu mendatangi semisalnya,

`aib yang besar atas engkau bila kamu mengerjakannya.

Keempat : Akhlaq yang baik.

Allah Ta`ala berfirman :

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. Al Israa` : 53)

Allah Ta`ala firman :

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fusshilat : 34)

Al Imam Tirmidziy telah meriwayatkan dalam sunannya, hadist dari jalan Abu Darda` bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

ما شيء أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من خلق حسن وإن الله ليبغض الفاحش البذيء

“Tidak ada sedikitpun yang lebih berat ditimbangan seorang mukmin pada hari kiamat nanti dari akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang berkata keji dan jelek”.[7]

Akhlaq yang baik mencakup sisi-sisi yang sangat banyak dari kehidupan seorang muslim dalam ucapan dan amalannya, dalam ibadah kepada Rabbnya dan mu’amalahnya kepada sesama hamba Allah. Abdullah bin al Mubaarak berkata : “Akhlaq yang baik ialah wajah yang berseri, menyebarkan kebajikan, menahan gangguan, dan hendaklah kamu memberikan `udzur kepada manusia”.

Saya wasiatkan kepada pengajar hendaklah berakhlaq yang baik dengan sahabat-sahabatnya, dengan para muridnya, bahkan dengan wali-wali muridnya, dan hendaklah berlemah lembut dalam bermu`amalah dengan mereka.

Al Imam Muslim telah meriwayatkan satu hadist dalam shohihnya dari jalan `Aisyah radhiallahu `anha bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه

“Tidak terdapat kelembutan pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak dicabut kelembutan dari sesuatu kecuali merusaknya”.[8]

Dan sesungguhnya Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling baik akhlaqnya. Maka barangsiapa yang ingin sampai kepada akhlaq yang mulia, hendaklah dia ber-uswah dengan Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam. Diriwayatkan dalam sunan at -Tirmidziy dari jalan Anas bin Malik radhiallahu `anhu, beliau bersabda :

خدمت النبي عشر سنين، فما قال لي أف قط، وما قال لشيء صنعته: لم صنعته؟ولا لشيء تركته: لم تركته؟

“Saya menjadi pembantu Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun, sama sekali beliau tidak pernah berkata uffin (menggerutu) pada saya, dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang saya perbuat : “kenapa kamu kerjakan itu?”, dan juga terhadap sesuatu yang saya tinggalkan: “kenapa kamu tinggalkan itu?”.[9]

Kelima : Hendaklah seorang guru bersemangat dalam mendidik anak didiknya dengan tarbiyatan shalihah.

Dia ajarkan pada mereka tentang perkara-perkara Islam dan Iman, lalu dia tanamkan rasa kecintaan pada Allah dan pengagungan-Nya di hati-hati mereka. Demikian juga kecintaan kepada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, kemudian dia jelaskan pada mereka wajibnya mengikuti beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam, beramal dengan Sunnahnya `alaihis Sholaatu was Salaam, ber-qudwah dengan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, lalu diajarkan pada mereka adab-adab yang baik, dan akhlaq yang mulia, seperti adab-adab masjid, majlis, menghormati guru dan orang yang lebih tua, juga adab dengan teman-teman dan sahabat, dan biasakan kepada mereka bertutur kata yang baik, dan peringatkan mereka dari perkataan yang jelek, dan selain dari yang demikian dari adab-adab yang indah serta sifat-sifat yang mulia.



Sumber: http://www.tazhimussunnah.com/buletin/70-nasehat-untuk-para-pendidik.html

Senin, 08 November 2010

Terjebak


Tet…tet…sekarang menunjukan pukul 12.15. Aku siap-siap ke kamar mandi ambil wudhu persiapan sholaht dzuhur.
Wow, anak-anak udah antrian duluan di kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Ya sudahlah, ambil wudhu di ruang kepala sekolah biar lebih cepat.
Alhamdullah kepala sekolah ternyata ada di ruang tamu berbicang dengan orang tua siswa, itu artinya aku tidak perlu malu untuk masuk ruang beliau, ujarku dalam hati.
Baru melongo ke ruang kepala sekolah, teranya guru sudah antrian juga ambil wudhu tapi tidak sebanyak antrian anak. Sembari menuggu antrian aku tegur sapa dulu dengan satpam.

Aku lihat kembali ruang kepala sekolah memastikan kalu guru sudah ambil wudhu. Alhamdullah sekarang giliranku ambil wudhu.
“Sudah pak ambil wudhunya”
“Sudah bu, silahkan. Kami duluan ke musolah bu” tegur mereka
“Ia pak, terimakasih”
Tanpa basa basi langsung masuk ruangan dan melepas kaos kaki dan kuletakan HP diatas meja. Auzubillahminasyaitonnirajim, langsung melangkah kaki kiri menuju kamar mandi.
Cekek.. bunyi pintu kamar mandi ku dorong hingga tertutup.
Ya allah aku baru sadar , ternyata setelah ku lihat pegangan pintu sudah terlepas.
Ku pegang sisa gagang pintu dengan sekuat tenaga.
Hek..hek..ku tarik lagi sisa gagang pintu, namun pintunya belum juga mau terbuka.
Ya allah, aku terjebak dalam ruang kamar mandi kepala sekolah.

Dengan perasan cemas dan malu bercampur dihati.
Ya allah, alangkah sayangnya Engkau dengan hamba-Mu ini , Engkau uji aku karena aku mampu melakukannya.
Bagaimanapun caranya aku tidak akan minta tolong dengan cara berteriak. Aku akan berusaha semampunya dan memohon pertolongan allah, tekatku dalam hati.
Ku ambil nafas dalam-dalam, selanjutnya ku tenangkan diri untuk langsung mengambil wudhu. Setelah diri merasa tenang. Ku lihat di sekitar kamar mandi yang ada kunci pintu dan besi penutup pintu.
Ku ambil besi pintu untuk kucoba masukan disela-sela pintu, namun cara ini belum juga berhasil. Ku ulangi lagi dengan cara yang sama namun gagal juga.
Ya allah, izinkan hamba-Mu ini sholat berjama di musolh lirihku dalam hati.
Ku coba kembai dengan menggunakan kunci pintu. Ku masukan kunci pintu di sela-sela pintu, kutekan dan kutekan dengan sekuatnya. Namun pintu belum juga mau terbuka.
Perasaan ku cemas kembali, Ku pakas menarik pintu dengan sisa gagang pintu sekuat tenaga namun gagal juga.

Ya allah, izinkan hamba-Mu yang dzolim ini mlaksanakan sholat dzuhur berjamaa, liriku kembali.
Ku coba menenangkan kembali hati ini, dengan berbaik sangka bahwa pintu ini akan terbuka.
Aku ambil kunci pintu kumasukan kembali disela-sela pintu, ya allah izinkanlah pintu ini terbuka.
Ku tekan dan kutekan lagi kunci pintu, ya allah bantulah hamba-Mu ini.
Cekek..bunyi pintu berhasil ku buka, ya allah terimaksih atas bantuan-Mu.
Perasaan ku haru, ingin rasanya sujud syukur atas pertolongan allah hari ini, namun langkahku langsung menuju musolah takut ketinggalan sholat berjamaa. Ingin kutumpahkan semua di sajadah atas kejadianku hari ini.
Alhamdullah ternyata allah masih mengizinkan aku sholat berjamaa. Ingin tumpah air mata ini mengingat kembai ketidak mampuanku terjebak di dalam kamar mandi.
“Sudah lama sholat berjamaanya nak” tanyaku dengan anak-anak di luar musolah
“Belum bu, mukenah habis dipakai teman-teman yang sholat duluan”
“Kami sholatnya giliran kedua bu dan ibu jadi imam ya” jawab merka
“Insyallah nak” jawabku

Syukron ya allah telah mengatur rencana hidupku hari ini, engkau izinkan hamba sholat berjamaa dengan menjadi imam bukan mejadi makmu sesuai dengan rencanaku.
Indahnya hidup ini jika kita berbaik sangka dengan ujian allah karena allah berada pada perasangka hamba-Nya.